Kamis, 07 Mei 2009

TENTANG “SURPRISSE”

“Surprisse” adalah sebuah projek seni yang berawal dari obrolan-obrolan klasik oleh sebagian mahasiswa kriya (ISI Yogyakarta dan ISI Surakarta) yang mencoba bertukar pikiran terkait dengan “fenomena” menarik yang terjadi dalam perkembangan wacana kriya selama ini. Keresahan-keresahan mahasiswa tersebut tentu saja memiliki alasan yang mendasar, karena selama ini (dalam pandangan mereka) seni kriya masih sering ditempatkan pada posisi “tepi” di dalam dunia seni rupa. Sangat sulit sekali (karena memang jarang) sebuah event-event pameran maupun diskusi seni kriya yang dapat ditemui. Hal ini mengakibatkan kebingungan sebagian mahasiswa kriya yang selama ini baru dalam proses pencarian jati diri atas ilmu yang digelutinya.

Berangkat dari fenomena inilah, maka timbul gagasan-gagasan menarik yang coba diutarakan oleh beberapa “motorik” tersebut. Berawal dari gagasan untuk membuat event kriya yang dapat memberikan wacana, atau setidaknya sekedar melempar isu-isu di tengah-tengah masyarakat terkait dengan wacana kriya. Kemudian disusul dengan gagasan-gagasan menarik lainnya berkaitan dengan konsep-konsep acara, yang akhirnya menjadi landasan terbentuknya event pameran surprisse ini.

Mengapa Surprisse ?
Di sinilah menariknya. Di tengah-tengah dilema antara semangat yang menggebu-gebu dengan kepercayaan diri yang kembang kempis para penggagas surprisse mencoba mencari sudut menarik dari wacana kriya untuk dijadikan tema pameran dengan konsep-konsep ringan dan tidak terlalu rumit. Seperti keinginan sebagian besar mahasiswa kriya yang merindukan adanya kegiatan terkait dengan kriya, atau sekedar keinginan untuk mencoba merasakan ikut andil dalam perhelatan seni dengan mengusung kriya sebagai sayapnya. Hal-hal kecil inilah yang kemudian menjadi semangat bagi sebagian mahasiswa kriya untuk menghadirkan surprisse di tengah-tengah masyarakat.

Singkatnya, Surprisse adalah event pameran seni rupa kriya yang mengusung semangat-semangat para kriyawan muda untuk menghadirkan sebuah wacana kriya tersebut bagi landasannya. Dengan begitu, event Surprisse dapat menjadi “batu pijakan” bagi kriyawan-kriyawan muda untuk menapakkan kaki pertama, yang kemudian diharapkan dapat menjadi pintu masuknya wacana-wacana baru dalam dunia Kriya.

Surprisse mengawali gebrakannya pada tanggal 5 Mei 2007 di Galery Biasa yang bekerja sama dengan pihak DEKRANAS DIY. Meski dengan segala keterbatasan materi maupun pengetahuan yang ada pada saat itu, tapi akhirnya Surprisse #1 yang bertema “Tarian Jiwa” tersebut dapat memberikan semangat baru untuk membuat Surprisse #2 ataupun surprisse-surprisse yang lain sehingga event-event seperti itu dapat dilakukan secara berkala setiap tahunnya.
Tema yang diangkat pada surprisse # 2 adalah “Front Space” yang ternyata telah menuai hasil yang tidak mengecewakan, terbukti dengan terbentuknya sebuah Forum Komunikasi Mahasiswa Kriya Indonesia atau FKMKI, selain itu beberapa kegiatan yang diadakan dalam rangka menyemarakkan surprisse #2 dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya halangan apapun. Di sini bisa kita lihat bahwasannya berbagai upaya yang telah dilakukan mahasiswa selaku pelaksana pameran memang benar-benar serius. Untuk menindak lanjuti dari pameran surprisse #2 maka akan diadakan lagi pameran serupa, namun tempat yang di tunjuk adalah ISI Surakarta (Institut Seni Indonesia Surakarta). Dalam hal ini peserta pameran adalah mahasiswa kriya nusantara atau yang tergabung dalam FKMKI di atas. Pada kesempatan ini ISI Surakarta meengangkat tema “Save The culture”, mengapa mengangkat tema tersebut? Berikut akan diuraikan konsep pameran yang bertemakan ”Save The Culture” sebagai tindak lanjut dari pameran-pameran surprisse sebelumnya.

SURPRISSE #3 - Save The Culture

Galeri Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
7-12 juli 2009


Latar Belakang
Berabad-abad tahun yang lalu nenek moyang kita mempunyai pemikiran “mitis” yaitu pemikiran yang menunjukkan keadaan manusia yang merasa dirinya diliputi dengan kekuatan-kekuatan gaib yang berasal dari luar dirinya. Seolah-olah mereka diresapi atau dikuasai roh-roh dan daya-daya yang berasal dari luar. Hal ini membuat mereka merasa terpesona oleh dunia ajaib ini. Lahirlah kemudian keyakinan animisme dan dinamisme.

Mereka mengekspresikan perasaannya lewat upacara-upacara atau ritual-ritual, untuk mendukukung kegiatan tersebut kemudian lahirlah peralatan-peralatan mediasi yang wujudnya sesuai dengan peradaban dan kebudayaan mereka. Piranti-piranti itu adalah berupa Menhir, Arca leluhur, Patung Dewi-Dewi, Topeng, Keris, Wayang, Batik, dan artefak oerlambang lain yang bagi mereka dapat merepresentasikan kekuatan alam jagad raya dan lain sebagainya.

Ritual-ritual dan upacara yang mereka lakukan dengan menggunakan properti yang ada merupakan sarana untuk menghubungkan manusia dengan dunia transenden, dunia yang ada di ”atas” dan di “luar” kehidupan manusia. Melalui ritual ini, terlihat keberadaan artefak kriya, yakni yang menjadi properti persembahan. Mereka percaya bahwa properti-properti tersebut dapat menghubungkan dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia alam roh.

Di saat manusia tidak lagi hidup dalam kepungan kekuasaan mitis, manusia sekarang lebih bebas berfikir dan meneliti segala hal ikhwal yang terjadi. Mereka berkembang dari berfikir mitos menjadi logos, berfikir secara logos bararti mengerti makna tentang mengapa sesuatu hal bisa terjadi. Segala sesuatu dapat dicari sebabnya. Mereka meyakini bahwa segala hal merupakan gejala alamiah yang bersifat sebab-akibat. Dampak pemikiran ini dapat dirasakan hingga sekarang, terbukti generasi muda menjadi acuh terhadap kajian kriya yang notabene bersifat kuno, tidak ada ketertarikan untuk mengenal dan mempelajari makna-makna yang ada di balik benda-benda kriya tersebut.

Di era masa kini kriya telah mengalami tahap revolusi, di mana disitu terlihat dari kebutuhan manusia yang semakin hari semakin bertambah.Jalur inilah yang menjadi jalan dari seni kriya untuk muncul di masyarakat secara luas.Inilah kesempatan besar bagi kriyawan-kriyawan muda untuk mengembangkan potensi seni kriya.

Banyaknya pemikiran dan pengembangan Ilmu seni kriya,kini telah muncul karya-karya kriya yang berkonsep budaya modern.Dengan banyaknya kebudayaan yang ada dalam seni kriya yaitu seni kriya tradisi dan seni kriya modern maka pameran Surprisse #3 yang mengusung tema “Save The Culture” yang mempuyai arti pelestarian kebudayaan,bertujuan mewadahi karya-karya seni kriya yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda-beda,selain itu pameran ini juga bermaksud untuk melestarikan budaya-budaya yang beraneka ragam dari setiap Institusi melalui karya-karya seni kriya.
Mengingat dalam Seni Rupa khususnya kriya seni,budaya tradisi dan modern sangat penting dan harus di kembangkan untuk mendukung perkembangan Ilmu Kriya Seni dan karya-karya kriya seni.Semoga pameran Surprisse #3, yang bertemakan “Save The Culture” ini di harapkan mampu menjadi sebuah wacana tersendiri tentang perkembangan Kriya Seni.
Pameran kriya yang bertemakan “Save The Culture” ini menghadirkan karya-karya mahasiswa seni rupa khususnya jurusan kriya yang tergabung dari institut-institut seni berbagai kota, di antaranya ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, STSI Bandung, IKJ dan STSI Padang Panjang Sumatra ini diharapkan mampu menyulut kembali semangat kriyawan-kriyawan muda yang lama padam.

Tujuan
1. Sebagai kegiatan yang merangsang dan kreatifitas dalam penciptaan karya Kriya .
2. Sebagai wadah berekspresi dan penuangan ide dalam penciptaan karya Kriya.
3. Sebagai ajang apresiasi mahasiswa kriya dan masyarakat.
4. Blowing-up seni kriya sebagai seni budaya yang mampu bersaing dalam kemajuan zaman .
5. Sebagai wujud eksistensi Seni Kriya dalam perkembangn Seni Rupa Indonesia
6. Pelestarian budaya yang mulai ditinggalkan kalangan muda.
7. Mempertemukan mahasiswa kriya se Nusantara sebagai upaya mempersatukan demi kebangkitan Seni Kriya Nusantara

Materi Kegiatan
1. Pameran Karya Seni Kriya
Pameran hasil karya mahasiswa kriya ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, STSI Bandung, IKJ Jakarta, STSI Padang Panjang Sumatra, UNS Surakarta, UNNES Semarang beserta. Acara akan dibuka oleh Wali Kota Surakarta Bp. Ir. Joko Widodo.

2. Sarasehan/Temu Mahasiswa Nusantara Dan Presentasi Karya
Sarasehan tentang perkembangan forum komunikasi mahasiswa kriya Indonesia dan presentasi hasil karya mahasiswa dari masing-masing institut.

3. Seminar Kriya
Seminar tentang dunia kriya di Indonesia dari beberapa delegasi Institut Seni di Indonesia yang menjadi peserta.

4. Workshop
Workshop keris; workshop ini akan diikuti seluruh mahasiswa Kriya Nusantara, sebagai upaya pelestarian budaya nusantara

5. Moral Tembok
Moral Tembok ; moral ini diikuti seluruh mahasiswa Kriya Nusantara, bertujuan mengekspresikan kreatifitas dari masing-masing delegasi peserta.

6. Penutupan

Peserta
· ISI Surakarta
· ISI Yogyakarta
· ISI Denpasar
· STSI Bandung
· STSI Padang Panjang
· IKJ Jakarta
· UNS Surakarta
· UNNES Semarang



Pelaksana
Hari pertama, Selasa 07 Juli 2009 (19.30 WIB - Selesai)
Opening
- Sambutan-sambutan
- Pembukaan oleh Wali Kota Surakarta Bp. Ir. Joko Widodo
- Performance Art
- Music Live

Hari Kedua, Rabu 08 Juli 2009 (13.00 WIB - Selesai)
- Temu Mahasiswa Kriya Nusantara
- Presentasi Karya

Hari Ketiga, Kamis 09 Juli 2009 (08.00 WIB - Selesai)
- Seminar

Hari keempat, Jumat 10 Juli 2009
- Workshop Mural Bareng di Tembok Pagar ISI Surakarta

Hari kelima, Sabtu 11 Juli 2009 (08.00 WIB-Selesai )
- Nggebuk Bareng

Hari kelima, Minggu 12 Juli 2009 (08.00 WIB-Selesai )
- Penutup

Pendaftaran
Pendaftaran peserta projek seni surprisse #3 "save the culture" dapat menghubungi sekretariat HIMA KRIYA tiap-tiap institusi seni dengan menyertakan data karya berupa gambar atau langsung dengan wujud karya seni.

Surprisse #2 - Front Space

Sebuah proses perjalanan kreatif antar individu tentu berbeda-beda, dan tentu mempunyai tujuan –tujuan yang berlainan pula, meskipun didalam proses itu dapat kita temukan beberapa persamaan . Kegiatan ini di ramu sedemikian rupa sehingga dapat tergarap lebih sempurna .Kegiatan “Surprisse” pertama kali digelar tahun 2008 bertempat di kawasan 0 km. benteng vredeburg yogyakarta dengan segala keterbatasan yang ada. Tahun 2008 ,Surprisse memasuki tahun ke 2 dan mencoba berbenah dan mengemas kegiatan untuk lebih luas lingkup dan agenda didalamnya. Adapun beberapa agenda yang akan digelar adalah: pameran, presentasi karya, temu mahasiswa kriya nusantara, seminar ,dan kolaborasi seni.

Terkait dengan Surprisse #2 “ front space” , kepanitiaan mencoba untuk melintas geo-cultur , Yogyakarta, Surakarta, Bali , sebuah segitiga emas seni nusantara yang di tempat tersebut masing-masing mempunyai “ Kawah Candra Dimuka” yang mampu mewadahi para kriyawan muda, (dalam hal ini, “Institut Seni Indonesia”),yang tak terlepas dari nilai-nilai luhur sejarah ketiga wilayah tersebut.

Rangkaian agenda yang digelar ini adalah sebagai wujud pertanggung jawaban kepada publik atas Ilmu yang di miliki , sekecil apapun ilmu yang di miliki akan menjadi sangat bermanfaat bila kita mau untuk berbagi dan tulus untuk menyuguhkan ke publik. Apapun, respon dan tafsir masyarakat tentang Seni kriya, itulah interpretasi mereka kepada seni kriya , dan siapapun berhak untuk berpendapat sesuai dengan kapasitas masing-masing individu.

Tema besar yang dibawa adalah Front Space (ruang muka) ,sebuah paduan kata yang dimaksudkan untuk merepresentasikan bahwa “karya-karya” seni kriya dapat berada dalam ruang muka, artinya secara kwalitas kreatif dan kwalitas estetis, karya seni kriya dengan material apapun apapun sangat layak dan pantas berada dalam ruang depan wacana seni rupa . Secara lebih luas , tema besar ini digunakan untuk menempatkan project “surprises” menjadi sebuah sajian diruang muka ketika audiens/public bermahsud mengetahui perkembangan seni kriya yang digarap oleh para pelajar seni kriya Indonesia.
Kegiatan dalam Surprisse #2 –front space .

Kegiatan
Pameran Seni Kriya di galeri ruang pamer benteng vredeburg yogyakarta

1st Surprisse – Tarian Jiwa ( 5 Mei 2007 )

Adalah sebuah bentuk kumpulan kegiatan yang di garap hima kriya isi yogyakarta dan hima kriya isi surakarta. Bertempat di sebuah galeri yang bernama “galeri biasa” yang berada di kawasan kampus pasca sarjana isi yogyakarta, tepatnya di jalan suryodiningratan yogyakarta. Tema besar yang di ambil ialah “ tarian jiwa” . sebuah gabungan kata yang dimaksudkan untuk dapat merepresentasikan ide-ide yang lepas, ide-ide yang tidak terikat dari jiwa-jiwa para pelaku seni yang notabene setiap waktu berada dalam kondisi “terikat” dalam judgments/ penghakiman atas wacana-wacana ataupun teori-teori tentang apapun yang digeluti setuap hari di bangku pendidikan tiap-tiap individu.

Sebuah karya yang lahir menjadi benar-benar dapat merepresentasikan apa yang ada dalam pemikiran-pemikiran tiap-tiap individu.Dalam acara ada beberapa kegiatan didalamnya, antara lain:

1. Pameran seni kriya
Pameran ini menampilkan karya-karya seni kriya dari mahasiswa kriya isi yogyakarta dan mahasiswa kriya isi surakarta.

Audiensi “surprisse #1 –tarian jiwa” yang dilaksanakan di studio hima kriya isi yogyakarta oleh delegasi hima kriya isi yogyakarta dan isi surakarta.
Pameran karya seni kriya “surprisse #1 tarian jiwa”

2. Diskusi
Dalam diskusi ini terdapat tiga pemateri, yaitu : Prof. Drs. SP Gustami S.U,(akademisi) kemudian A.Sudjud Dartanto, S.Sn (kurator) . dan AA Nurjaman,S.Sn.(kurator)

Beberapa tulisan yang terkimpul dalam “surprisse #1 tarian juwa”

A.Sudjud Dartanto
AA Nurjaman.
Prof.Drs.SP Gustami S.U (tidak terdokumentasi)