Galeri Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
7-12 juli 2009
Latar Belakang
Berabad-abad tahun yang lalu nenek moyang kita mempunyai pemikiran “mitis” yaitu pemikiran yang menunjukkan keadaan manusia yang merasa dirinya diliputi dengan kekuatan-kekuatan gaib yang berasal dari luar dirinya. Seolah-olah mereka diresapi atau dikuasai roh-roh dan daya-daya yang berasal dari luar. Hal ini membuat mereka merasa terpesona oleh dunia ajaib ini. Lahirlah kemudian keyakinan animisme dan dinamisme.
Mereka mengekspresikan perasaannya lewat upacara-upacara atau ritual-ritual, untuk mendukukung kegiatan tersebut kemudian lahirlah peralatan-peralatan mediasi yang wujudnya sesuai dengan peradaban dan kebudayaan mereka. Piranti-piranti itu adalah berupa Menhir, Arca leluhur, Patung Dewi-Dewi, Topeng, Keris, Wayang, Batik, dan artefak oerlambang lain yang bagi mereka dapat merepresentasikan kekuatan alam jagad raya dan lain sebagainya.
Ritual-ritual dan upacara yang mereka lakukan dengan menggunakan properti yang ada merupakan sarana untuk menghubungkan manusia dengan dunia transenden, dunia yang ada di ”atas” dan di “luar” kehidupan manusia. Melalui ritual ini, terlihat keberadaan artefak kriya, yakni yang menjadi properti persembahan. Mereka percaya bahwa properti-properti tersebut dapat menghubungkan dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia alam roh.
Di saat manusia tidak lagi hidup dalam kepungan kekuasaan mitis, manusia sekarang lebih bebas berfikir dan meneliti segala hal ikhwal yang terjadi. Mereka berkembang dari berfikir mitos menjadi logos, berfikir secara logos bararti mengerti makna tentang mengapa sesuatu hal bisa terjadi. Segala sesuatu dapat dicari sebabnya. Mereka meyakini bahwa segala hal merupakan gejala alamiah yang bersifat sebab-akibat. Dampak pemikiran ini dapat dirasakan hingga sekarang, terbukti generasi muda menjadi acuh terhadap kajian kriya yang notabene bersifat kuno, tidak ada ketertarikan untuk mengenal dan mempelajari makna-makna yang ada di balik benda-benda kriya tersebut.
Di era masa kini kriya telah mengalami tahap revolusi, di mana disitu terlihat dari kebutuhan manusia yang semakin hari semakin bertambah.Jalur inilah yang menjadi jalan dari seni kriya untuk muncul di masyarakat secara luas.Inilah kesempatan besar bagi kriyawan-kriyawan muda untuk mengembangkan potensi seni kriya.
Banyaknya pemikiran dan pengembangan Ilmu seni kriya,kini telah muncul karya-karya kriya yang berkonsep budaya modern.Dengan banyaknya kebudayaan yang ada dalam seni kriya yaitu seni kriya tradisi dan seni kriya modern maka pameran Surprisse #3 yang mengusung tema “Save The Culture” yang mempuyai arti pelestarian kebudayaan,bertujuan mewadahi karya-karya seni kriya yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda-beda,selain itu pameran ini juga bermaksud untuk melestarikan budaya-budaya yang beraneka ragam dari setiap Institusi melalui karya-karya seni kriya.
Mengingat dalam Seni Rupa khususnya kriya seni,budaya tradisi dan modern sangat penting dan harus di kembangkan untuk mendukung perkembangan Ilmu Kriya Seni dan karya-karya kriya seni.Semoga pameran Surprisse #3, yang bertemakan “Save The Culture” ini di harapkan mampu menjadi sebuah wacana tersendiri tentang perkembangan Kriya Seni.
Pameran kriya yang bertemakan “Save The Culture” ini menghadirkan karya-karya mahasiswa seni rupa khususnya jurusan kriya yang tergabung dari institut-institut seni berbagai kota, di antaranya ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, STSI Bandung, IKJ dan STSI Padang Panjang Sumatra ini diharapkan mampu menyulut kembali semangat kriyawan-kriyawan muda yang lama padam.
Tujuan
1. Sebagai kegiatan yang merangsang dan kreatifitas dalam penciptaan karya Kriya .
2. Sebagai wadah berekspresi dan penuangan ide dalam penciptaan karya Kriya.
3. Sebagai ajang apresiasi mahasiswa kriya dan masyarakat.
4. Blowing-up seni kriya sebagai seni budaya yang mampu bersaing dalam kemajuan zaman .
5. Sebagai wujud eksistensi Seni Kriya dalam perkembangn Seni Rupa Indonesia
6. Pelestarian budaya yang mulai ditinggalkan kalangan muda.
7. Mempertemukan mahasiswa kriya se Nusantara sebagai upaya mempersatukan demi kebangkitan Seni Kriya Nusantara
Materi Kegiatan
1. Pameran Karya Seni Kriya
Pameran hasil karya mahasiswa kriya ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, STSI Bandung, IKJ Jakarta, STSI Padang Panjang Sumatra, UNS Surakarta, UNNES Semarang beserta. Acara akan dibuka oleh Wali Kota Surakarta Bp. Ir. Joko Widodo.
2. Sarasehan/Temu Mahasiswa Nusantara Dan Presentasi Karya
Sarasehan tentang perkembangan forum komunikasi mahasiswa kriya Indonesia dan presentasi hasil karya mahasiswa dari masing-masing institut.
3. Seminar Kriya
Seminar tentang dunia kriya di Indonesia dari beberapa delegasi Institut Seni di Indonesia yang menjadi peserta.
4. Workshop
Workshop keris; workshop ini akan diikuti seluruh mahasiswa Kriya Nusantara, sebagai upaya pelestarian budaya nusantara
5. Moral Tembok
Moral Tembok ; moral ini diikuti seluruh mahasiswa Kriya Nusantara, bertujuan mengekspresikan kreatifitas dari masing-masing delegasi peserta.
6. Penutupan
Peserta
· ISI Surakarta
· ISI Yogyakarta
· ISI Denpasar
· STSI Bandung
· STSI Padang Panjang
· IKJ Jakarta
· UNS Surakarta
· UNNES Semarang
Pelaksana
Hari pertama, Selasa 07 Juli 2009 (19.30 WIB - Selesai)
Opening
- Sambutan-sambutan
- Pembukaan oleh Wali Kota Surakarta Bp. Ir. Joko Widodo
- Performance Art
- Music Live
Hari Kedua, Rabu 08 Juli 2009 (13.00 WIB - Selesai)
- Temu Mahasiswa Kriya Nusantara
- Presentasi Karya
Hari Ketiga, Kamis 09 Juli 2009 (08.00 WIB - Selesai)
- Seminar
Hari keempat, Jumat 10 Juli 2009
- Workshop Mural Bareng di Tembok Pagar ISI Surakarta
Hari kelima, Sabtu 11 Juli 2009 (08.00 WIB-Selesai )
- Nggebuk Bareng
Hari kelima, Minggu 12 Juli 2009 (08.00 WIB-Selesai )
- Penutup
Pendaftaran
Pendaftaran peserta projek seni surprisse #3 "save the culture" dapat menghubungi sekretariat HIMA KRIYA tiap-tiap institusi seni dengan menyertakan data karya berupa gambar atau langsung dengan wujud karya seni.
7-12 juli 2009
Latar Belakang
Berabad-abad tahun yang lalu nenek moyang kita mempunyai pemikiran “mitis” yaitu pemikiran yang menunjukkan keadaan manusia yang merasa dirinya diliputi dengan kekuatan-kekuatan gaib yang berasal dari luar dirinya. Seolah-olah mereka diresapi atau dikuasai roh-roh dan daya-daya yang berasal dari luar. Hal ini membuat mereka merasa terpesona oleh dunia ajaib ini. Lahirlah kemudian keyakinan animisme dan dinamisme.
Mereka mengekspresikan perasaannya lewat upacara-upacara atau ritual-ritual, untuk mendukukung kegiatan tersebut kemudian lahirlah peralatan-peralatan mediasi yang wujudnya sesuai dengan peradaban dan kebudayaan mereka. Piranti-piranti itu adalah berupa Menhir, Arca leluhur, Patung Dewi-Dewi, Topeng, Keris, Wayang, Batik, dan artefak oerlambang lain yang bagi mereka dapat merepresentasikan kekuatan alam jagad raya dan lain sebagainya.
Ritual-ritual dan upacara yang mereka lakukan dengan menggunakan properti yang ada merupakan sarana untuk menghubungkan manusia dengan dunia transenden, dunia yang ada di ”atas” dan di “luar” kehidupan manusia. Melalui ritual ini, terlihat keberadaan artefak kriya, yakni yang menjadi properti persembahan. Mereka percaya bahwa properti-properti tersebut dapat menghubungkan dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia alam roh.
Di saat manusia tidak lagi hidup dalam kepungan kekuasaan mitis, manusia sekarang lebih bebas berfikir dan meneliti segala hal ikhwal yang terjadi. Mereka berkembang dari berfikir mitos menjadi logos, berfikir secara logos bararti mengerti makna tentang mengapa sesuatu hal bisa terjadi. Segala sesuatu dapat dicari sebabnya. Mereka meyakini bahwa segala hal merupakan gejala alamiah yang bersifat sebab-akibat. Dampak pemikiran ini dapat dirasakan hingga sekarang, terbukti generasi muda menjadi acuh terhadap kajian kriya yang notabene bersifat kuno, tidak ada ketertarikan untuk mengenal dan mempelajari makna-makna yang ada di balik benda-benda kriya tersebut.
Di era masa kini kriya telah mengalami tahap revolusi, di mana disitu terlihat dari kebutuhan manusia yang semakin hari semakin bertambah.Jalur inilah yang menjadi jalan dari seni kriya untuk muncul di masyarakat secara luas.Inilah kesempatan besar bagi kriyawan-kriyawan muda untuk mengembangkan potensi seni kriya.
Banyaknya pemikiran dan pengembangan Ilmu seni kriya,kini telah muncul karya-karya kriya yang berkonsep budaya modern.Dengan banyaknya kebudayaan yang ada dalam seni kriya yaitu seni kriya tradisi dan seni kriya modern maka pameran Surprisse #3 yang mengusung tema “Save The Culture” yang mempuyai arti pelestarian kebudayaan,bertujuan mewadahi karya-karya seni kriya yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda-beda,selain itu pameran ini juga bermaksud untuk melestarikan budaya-budaya yang beraneka ragam dari setiap Institusi melalui karya-karya seni kriya.
Mengingat dalam Seni Rupa khususnya kriya seni,budaya tradisi dan modern sangat penting dan harus di kembangkan untuk mendukung perkembangan Ilmu Kriya Seni dan karya-karya kriya seni.Semoga pameran Surprisse #3, yang bertemakan “Save The Culture” ini di harapkan mampu menjadi sebuah wacana tersendiri tentang perkembangan Kriya Seni.
Pameran kriya yang bertemakan “Save The Culture” ini menghadirkan karya-karya mahasiswa seni rupa khususnya jurusan kriya yang tergabung dari institut-institut seni berbagai kota, di antaranya ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, STSI Bandung, IKJ dan STSI Padang Panjang Sumatra ini diharapkan mampu menyulut kembali semangat kriyawan-kriyawan muda yang lama padam.
Tujuan
1. Sebagai kegiatan yang merangsang dan kreatifitas dalam penciptaan karya Kriya .
2. Sebagai wadah berekspresi dan penuangan ide dalam penciptaan karya Kriya.
3. Sebagai ajang apresiasi mahasiswa kriya dan masyarakat.
4. Blowing-up seni kriya sebagai seni budaya yang mampu bersaing dalam kemajuan zaman .
5. Sebagai wujud eksistensi Seni Kriya dalam perkembangn Seni Rupa Indonesia
6. Pelestarian budaya yang mulai ditinggalkan kalangan muda.
7. Mempertemukan mahasiswa kriya se Nusantara sebagai upaya mempersatukan demi kebangkitan Seni Kriya Nusantara
Materi Kegiatan
1. Pameran Karya Seni Kriya
Pameran hasil karya mahasiswa kriya ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, STSI Bandung, IKJ Jakarta, STSI Padang Panjang Sumatra, UNS Surakarta, UNNES Semarang beserta. Acara akan dibuka oleh Wali Kota Surakarta Bp. Ir. Joko Widodo.
2. Sarasehan/Temu Mahasiswa Nusantara Dan Presentasi Karya
Sarasehan tentang perkembangan forum komunikasi mahasiswa kriya Indonesia dan presentasi hasil karya mahasiswa dari masing-masing institut.
3. Seminar Kriya
Seminar tentang dunia kriya di Indonesia dari beberapa delegasi Institut Seni di Indonesia yang menjadi peserta.
4. Workshop
Workshop keris; workshop ini akan diikuti seluruh mahasiswa Kriya Nusantara, sebagai upaya pelestarian budaya nusantara
5. Moral Tembok
Moral Tembok ; moral ini diikuti seluruh mahasiswa Kriya Nusantara, bertujuan mengekspresikan kreatifitas dari masing-masing delegasi peserta.
6. Penutupan
Peserta
· ISI Surakarta
· ISI Yogyakarta
· ISI Denpasar
· STSI Bandung
· STSI Padang Panjang
· IKJ Jakarta
· UNS Surakarta
· UNNES Semarang
Pelaksana
Hari pertama, Selasa 07 Juli 2009 (19.30 WIB - Selesai)
Opening
- Sambutan-sambutan
- Pembukaan oleh Wali Kota Surakarta Bp. Ir. Joko Widodo
- Performance Art
- Music Live
Hari Kedua, Rabu 08 Juli 2009 (13.00 WIB - Selesai)
- Temu Mahasiswa Kriya Nusantara
- Presentasi Karya
Hari Ketiga, Kamis 09 Juli 2009 (08.00 WIB - Selesai)
- Seminar
Hari keempat, Jumat 10 Juli 2009
- Workshop Mural Bareng di Tembok Pagar ISI Surakarta
Hari kelima, Sabtu 11 Juli 2009 (08.00 WIB-Selesai )
- Nggebuk Bareng
Hari kelima, Minggu 12 Juli 2009 (08.00 WIB-Selesai )
- Penutup
Pendaftaran
Pendaftaran peserta projek seni surprisse #3 "save the culture" dapat menghubungi sekretariat HIMA KRIYA tiap-tiap institusi seni dengan menyertakan data karya berupa gambar atau langsung dengan wujud karya seni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar